Sabtu, 22 Mei 2010

LARUT DALAM CINTA


Seorang wanita bertanya ke pada kekasihnya, “Apakah Kamu Mencintaiku..??! “

“tentu aku mencintaimu” . jawab sang kekasih singkat
Sepertinya wanita tersebut ingin sekali mendapatkan jawaban yang memuaskan maka dia bertanya lagi

“Seberapa besarkah kamu mencintaiku sayang?”
Kekasihnya menjawab,” aku mencintaimu sejujurnya tidak sebesar aku mencitai Tuhanku, dan aku menyayangi mu tidak sebesar aku menyayangi alam semesta ini…”.

Si wanita menjadi sewot, karena jawaban yg diharapkan tidak terkabulkan, ia mulai berfikir keras maksud perkataan sang kekasihnya, tetapi sepertinya tidak juga memahami.

“Maksudmu ?”, Tanya siwanita dengan tampang bingung…
“Begini sayang…aku mau kamu tahu apa yang ada dalam benakku dan itu jujur… mengapa cintaku lebih besar kepada Tuhanku di banding dengan cinta kepada mu ?, karena aku bersyukur doaku sudah di kabulkan dan langkahku sudah di mudahkan bertemu dengan mu….dan berniat menikahimu, dan Tuhan juga sudah membuka hatiku melapangkan dadaku untuk tidak berfikir kerdil dan berhati busuk, termasuk menerima mu dan tidak ada niat mempermainkanmu, dan jika kau Tanya apalagi ? Tuhanku juga telah menghadirkan rasa cintaku kepada mu…membantu dan menguatkanku dalam membersihkan hati ini…untuk mencintaimu dalam keadaan apapun, dan juga menerimamu include kekuranganmu, dan aku tidak mau mengubahmu seperti yang kumau karena aku sudah menerima mu benar bukan.
Sang Wanita terkejut sekali dan penasaran sehingga ia menanyakan lagi…
Jadi apakah aku urutan kedua setelah kau mencintai TuhanMU?
Bukan sayang selanjutnya adalah aku mencintai kedua orang tuaku dimana nanti sama hal aku juga mencintai mertua ku…Mengapa demikian? Kaena aku tidak mau menjadi anak yang durhaka , hanya seorang wanita…bukan berarti aku menikahimu aku harus melupakan orang tuaku dan tidak menyayangi mereka? Sesungguhnya anak laki – laki tanggung jawab orang tuanya tidak akan pernah lepas kecuali salah satu mereka meninggal berbeda dengan kamu karena kamu wanita maka tanggung jawab orang tuamu akan berpindah pada suami. Dan itupun kamu tetap harus menyayangi dan mencintai kedua orang tua mu.

“Lalu menurutmu aku di posisi ketiga ?” Tanya sang wanita lagi.

“ Tidak juga .” jawab sang kekasih kalem….” Sang Kekasihnya tersenyum kemudian menjelaskannya.

“Begini sayangku, Selanjutnya aku juga mencintai alam dan isinya, karena aku menyayangi mereka seperti aku menyayangi diriku, aku tak mau menyakiti mereka dan akupun tak mau merusak alam ini, karena itu semua adalah anugrah dari Sang Pencipta . Jika aku melakukannya aku amat malu terhadap Tuhanku, ke mana nanti aku sembunyikan wajah ini “.

Sang Wanita mulai memahami maksud dari sang kekasinya dan dia bertanya kembali, jika memang begitu katakan pada ku apa yang kau harapkan jika aku nanti menjadi istrimu,

Kekasihnya berfikir sejenak dan lalu menjawabnya, “ terlepas dari kelemahanmu dan kelebihan mu sekarang, dan tanpa ingin mengubahmu , maka jika kau tanyakan demikian yang ku inginkan adalah kamu menjadi istriku yang bersedia menjalani hidup dengan menerima kekuranganku.
Dan perbedaan yang ada bukan menjadi kendala bahwa nanti kita dapat berpisah dalam ikatan perkawinan, karena dengan adanya perbedaan seharusnya hidup kita lebih berwarna. Aku ingin melihatmu tertawa bahagia disampingku, dan aku juga ingin kau menangis di bahuku saat kau sedang bersedih. Tatkala aku lelah aku ingin kau menyemangatiku untuk tetap teguh, aku juga berharap kamu tetap menyayangi dan mengasihi siapapun tak peduli agama nya apa dan sukunya apa . Karena dihadapan Tuhan kita adalah sama sayang yg membedakannya adalah tingkat ke imanan saja.
Dalam keadaan kita lemah aku ingin jangan ada kita menyalahkan tetapi isilah saling menguatkan…dan aku dan kamu ku ingin kita mempunya dada yang luas, hati yang bersih, qolbu yang jernih, karena dalam hidup nanti pasti ada rintangan dan hambatan maka dari itu aku ingin kamu tetap di sampingku…untuk saling bahu membahu, dan jika nanti kamu terbaring sakit jangan menolaknya jika aku merawatmu, memandikanmu, menyuapmu dan mendapingimu….dan yang paling penting aku ingin pernikahan terjadi bukan pernikahan jasad saja tetapi ke ikutsertaan ruh kita dalam ikrar itu, sehingga jika kita di pisahkan dalam kematian nanti aku tak akan bersedih karena aku akan memohon kepada tuhanku agar dapat di pertemukan kembali padamu”.

Sang Wanita menjadi terharu mendengarkan jawaban dari sang kekasihnya, tanpa disadarinya diapun menitikan air mata karena bahagia, tetapi tiba-tiba ia berkata, “sungguh bodoh aku selama ini telah berfikir kerdil dan tak mau bertafakur merenungi hidup ini”,
Sang kekasih menjawabnya “ itulah salah satu fitrah manusia, jangan kau sesali tetapi sikapi dengan bijak bahwa disanalah pembelajaran yang terbaik “.

“Sekarang hatiku lega, selega fikiranku dan semantap niatmu, bahwa aku akan berusaha belajar menjadi istri terbaik untuk mu dan menjadi insan yang dapat mensyukuri atas semua nikmat yang di berikan oleh Tuhan “. Jawab sang wanita dengan hati yang mantap dan tatapan yang terang.

Sang kekasih menjawabnya “ Alhamdulillah hirobil Alamin, semoga Tuhan selalu menguatkan hati ini meneguhkan niat kita dan melipahkan karuniaNya “.
(Semoga dapat mencerahkan )